Penggemar JKT48 yang terselamatkan hidupnya lewat lagu River. Aktif di KBEA, Komunitas Kretek, dan Komunitas Baca Tangerang. Setelah gagal wisuda, kini bekerja paruh waktu sebagai buruh harian lepas. Akhirnya merasakan hidup merantau walau masih dalam batas pulang-pergi Tangerang-Yogyakarta setiap bulannya.

 

Sebuah Ungkapan

Rasa Hormat

Sesaat sebelum lulus SMA, saya pernah berkeinginan untuk tidak melakukan studi. Sederhana saja, saya sudah terlalu bosan belajar di kelas. Mending kerja, dapat uang bisa beli macam-macam. Meski kemudian, tidak melanjutkan studi hanya satu dari sekian banyak keinginan yang tidak bisa saya capai. Pada akhirnya, saya akhirnya kuliah di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hidup di Ciputat dengan segala kerumitannya kemudian membawa saya pada satu fase penting dalam hidup: bergerak. Memang, saya sempat berkelakar ketika hendak melanjutkan studi, sepertinya enak jadi mahasiswa yang kerjanya demo pemerintah. Dan, kelakar itu kemudian menjadi nyata setelah kesadaran saya terketuk kala gagal mempertahankan rumah seorang kawan yang akhirnya di gusur demi pembangunan.

 

Setelahnya saya sadar, saya bukanlah siapa-siapa dan bukan apa-apa. Hanya dengan modal kesadaran dan keberanian tidak bakal bisa mewujudkan keadilan bagi seluruh masyarakat kita. Segala cita-cita besar tak bakal jadi apa-apa tanpa adanya kemampuan untuk mereka yang memiliki kesadaran. Atau setidaknya, kalau memang belum bisa mempersatukan massa, tingkatkanlah lagi kemampuan personal guna menunjang kebutuhan gerakan.

 

Pilihan saya untuk masuk Lembaga Pers Mahasiswa Insitut juga membawa saya pada dimensi baru dalam hidup. Meski pada akhirnya saya hanya menjadi orang gagal di lembaga ini, ada begitu banyak hal yang saya dapatkan selama bernaung di sana. Terutama dalam hal kedisiplinan dan mental untuk terus berusaha yang menjadi fondasi dari segala sikap saya kemudian.

Pertemuan dengan Dedik Priyanto, Arlian Buana, juga Ahsan Ridhoi membawa saya pada pergaulan yang lebih luas. Dari sana kemudian saya bisa mengenal Puthut EA yang akhirnya membawa saya pada satu kesempatan belajar yang lebih besar bernama KBEA.

 

Ada terlalu banyak orang yang harus saya ucapo terima kasih karena telah mendukung dan membantu saya hingga saat ini. Tope, Haikal, Boim, Azami, Dodo, Bibir, dan semua kawan-kawan gerakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tanpa mereka, tak bakal saya memahami realitas sosial yang mendorong kita untuk bergerak.

 

Kepada insitut yang telah mendisiplinkan saya dan membangun mental saya. Juga Alfa Gumilang, Abisam DM, Jibal Windiaz, serta teman-teman komunitas kretek yang memperluas jarigan perkawanan antargerakan. Lalu, Bilven Sandalista, Dhyta Caturani, Pheo, Efi, Ibu Dolorosa, Dan seluruh penggerak Belok Kiri. Fest juga memberi saya kesempatan untuk ambil bagian.

 

Dan tentu saja, kepada KBEA dan Puthut EA yang memberi saya kepercayaan untuk terus berkembang. Jika pun nantinya saya masih dikenal sebagai orang yang gagal, saya akan tetap mensyukuri perkembangan hidup yang saya jalani bersama teman-teman.

 

Aditia Purnomo

Aditia Purnomo